Entri Populer

Rabu, 09 Mei 2012

BRUNO GUIDERDONI, ASTRAFISIKAWAN MUALAF DARI PERANCIS oleh ๑۞๑ Lentera Mualaf ๑۞๑ pada 11 Oktober 2010 pukul 13:43 · Bruno Guiderdoni adalah salah seorang intelektual Prancis Muslim yang terkenal, seorang astrofisikawan terkemuka yang masuk Islam kurang lebih lima belas tahun yang lalu. Dia belajar fisika dan astrofisika di Universitas Paris dan memperoleh gelar doktornya di sana pada 1986. Kini (2004), dia merupakan ilmuwan yang bekerja pada Badan Antariksa Eropa yang menangani dua satelit untuk penelitian ilmiah, yaitu Herschel dan Planck, yang akan diorbitkan pada 2007, untuk mengamati fluktuasi suhu pada radiasi latar kosmologi dalam frekuensi inframerah-jauh dan gelombang submilimeter. Penelitian ilmiah Dr. Guiderdoni terfokus pada persoalan lahirnya dan evousi galaksi-galaksi.Berikut adalah wawancara Philip Clayton dengan Bruno Guiderdoni, yang dikutip — seizin kronik, mizan — dari Buku Membaca Alam Membaca Ayat (mizan, 2004). Philip Clayton: Pengaruh-pengaruh religius apa saja yang anda terima dimasa kanak-kanak, dan bagaimana akhirnya Anda memilih Islam ? Guiderdoni: Ayah dan ibu saya beragama Kristen, tetapi saya tidak dibesarkan dalam suatu agama tertentu. Sata saya mempelajari sains, saya dapati ada sesuatu yang hilang dalam pendekatan saintifik terhadap dunia. Saat saya mencari jenis pengetahuan lainnya, saya tersadar bahwa pencarian saya adalah sebuah pencarian religius. Saya tidak tahu kondisi di Amerika, tetapi di Prancis, pendidikan modern sama sekali mengesampingkan gagasan tentang Tuhan. Konsekuensinya, anak-anak muda tidak mampu menjelaskan apa yang mereka rasakan. Setelah banyak membaca dan melakukan perjalanan, akhirnya saya tersadar bahwa pencarian saya merupakan pencarian religius. Saya sangat tertarik dengan agama-agama Timur, khususnya penekanan agama-agama itu terhadap pencarian pengetahuan. Bagi saya, menjadi penganut Buddha, Tao, atau Hindu adalah langkah yang terlalu jauh. Menjadi seorang Muslim merupakan jalan tengah antara Timur dan Barat.. Islam memperkenalkan diri sebagai agama pertengahan antara agama-agama Barat — agama Yahudi dan Kristen — dan agama-agama Timur. Saya merasa (dengan memeluk Islam) tetap berada pada aliran yang sama, yang telah diawali oleh agama Yahudi dan Kristen, tetapi saya pun mendapatkan jalan kepada agama-agama Timur. Saya menemukan jalan saya dalam Islam, meskipun,`sebagaima na Anda tahu, Islam kini dirundung banyak masalah , terutama oleh paham fundamentalis yang menggunakan kekerasan. Tentu saja, ada juga banyak hal berharga dalam Islam dan banyak kemungkinan untuk sebuah kehidupan spiritual. Clayton: Jadi, daya tarik Islam adalah karena agama itu merupakan keterpaduan agama Yahudi dan Kristen , tetapi juga dekat dengan tradisi-tradisi ketimuran. Guiderdoni: Benar. Terutama mistisisme Islam , yang disebut sufisme. Sufisme memberikan penekanan pada realisasi pengetahuan dengan cara yang sangat simpatik, dalam kerangka paham monoteis, dengan konsep teologis yang sangat akrab dengan kita. Dalam Islam, pandangan tentang manusia, dunia, dan penciptaan, sangat mirip dengan Yahudi dan Kristen. Akhirnya, tujuan kehidupan religius adalah pengetahuan. Hal yang sangat penting adalah, baik pencarian sains maupun pencarian religius saya sama-sama merupakan pencarian pengetahuan. Clayton: Bisakah Anda berbicara sedikit mengenai apa yang tidak Anda dapatkan dari sekadar pencarian pengetahuan saintifik? Guiderdoni: Pada abad ke-19, sains berharap bisa menjawab semua pertanyaan. Sains modern sangat berhasil dalam menjawab pertanyaan-pertanya an tentang bagaimana mekanisme segala hal. Namun, hal itu mulai tidak memuaskan pertanyaan,”Mengapa segala sesuatu berlaku seperti ini ?” Harapan di abad ke-19 itu bukanlah pada sains yang sesungguhnya, melainkan pada ideologi . Kini, sains lebih menitikberatkan pada tujuan utamanya, yakni penjelajahan alam semesta. Sains modern hanya sedikit berbicara di tataran fisolofis. Pada abad yang lalu, segala usaha untuk mendefinisikan sifat-dasar kebenaraaan- ilmiah terbukti gagal total. Dalam sains, kita memiliki metode yang sangat efisien untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang alam semesta. Namun, kita tidak mampu mengatakan bahwa suatu teori benar, atau mungkin benar, atau salah, atau mungkin salah. Karya Karl Popper sangat penting dari sudut pandang ini. Jawaban atas pertanyaan-pertanya an ilmiah kita memunculkan pertanyaan-pertanya an lainnya. Sains adalah suatu kisah yang tiada habisnya dan sangat mengasyikkan. Sayangnya, kita umat manusia dibatasi oleh waktu, dan kita menginginkan jawaban pasti atas pertanyaan-pertanya an lainnya. Pencarian terhadap jawaban semacam itu adalah alami, bahkan meskipun jika pencarian ini tidak bersifat ilmiah, melainkan religius. Itulah sebabnya mengapa saya amat tidak puas dengan kegiatan ilmiah yang saya lakukan. Clayton: Adakah sesuatu dalam keterbatasan pengetahuan yang telah ditegaskan oleh para ilmuwan sendiri ratusan tahun lalu, yang memberi sumbangsih bagi pemahaman Anda atas perlunya sebuah cara lain (di luar sains)? Umpamanya, ketidakpastian tentang tingkatan kuantum yang digagas Heisenberg. Guiderdoni: Di jalan inlelektual saya ada dua langkah penting, dua telaah penting. Yang pertama adalah filsafat sains, terutama karya Popper yang saya baca saat berusia dua puluh tahun. Langkah penting lainnya adalah perdebatan mengenai sifat-dasar dan kesempurnaan mengenai mekanika kuantum. Di Prancis terjadi banyak perdebatan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Bernard d’Espagnat memberi kuliah di universitas tempat saya belajar lima belas tahun silam. Saya terkesan oleh kecermelangan dan kecerdasannya, dan terutama oleh anlisisnya mengenai keterbatasan mekanika kuantum dan oleh gagasan bahwa kenyataan tak pernah benar-benar dapat diungkap penyelidikan ilmiah. Sesungguhanya realitas selalu “terselubungi”. Saya rasa saya perlu mencoba cara lain untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas. Clayton: Sejak menganut agama Islam, bagaiman Anda memandang hubungan antara tradisi sains dan religius? Apakah Anda melihatnya komplementer, integral, atau sebagai wilayah yang sangat berbeda? Guiderdoni: Menurut saya, keduanya komplementer. Seperti yang saya katakan pada Anda, Islam sangat menekankan pentingnya ilmu dalam kehidupan secara umum dan dalam kehidupan religius secara khusus. Akar dari dosa adalah kebodohan, atau kegelapan.”Carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat,” kata Rasulullah. Zhulm adalah istilah bahasa Arab untuk dosa dan kegelapan. Sangatlah mungkin bagi ita untuk keluar dari dosa dengan cahaya ilmu. Maka, mencari ilmu penting adanya, segala macam ilmu: ilmu dunia dan ilmu akhirat. Mungkin orang menganggap pengetahuan sains sebagai pengatahuan dunia, dan pengetahuan akhirat adalah pengetahuan religius.. Pada kenyatannya, perbedaan itu tidak begitu jelas. Dalam tradisi Islam, ilmu yang dicari adalah ilmu yang yang berguna untuk kemanusiaan secara umum. Pencarian ilmu tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai etis. Seperti halnya segala sesuatu di dunia, sains punya satu tujuan, yaitu Tuhan. Kita tidak bisa memahami pencarian pengetahuan secara terpisah dari upaya perbaikan diri. Clayton: Jadi, karya Anda sebagai seorang ilmuan tidak sepenuhnya terpisah dari ketaatan Anda sebagai seoarang Muslim. Itukah yang Anda maksud? Guiderdoni: Ya. Tidak ada pertentangan antara sains dan agama. Tidak mungkin ada kasus Galileo dalam Islam. Islam terbuka bagi segala macam ilmu. Jadi, sebagai seorang Muslim, saya merasa sangat nyaman dengan aktivitas keilmuan saya, karena saya dapat menafsirkan karya riset saya sebagai pencarian ilmu untuk dunia ini, juga sebagai penjelajahan kekayaan dan keindahan ciptaan Tuhan. Clayton: Kedengarannya seolah-olah dalam Islam Anda menemukan suatu kebutuhan untuk menyatukan karya Anda sebagai seorang ilmuan dengan amal Anda sebagai Muslim. Guiderdoni: Benar. Sebagai seorang Muslim, saya cenderung menyatukan seluruh aktivitas ke dalam satu jalan tunggal, satu jalan hidup dan berfikir. Karena Tuhan adalah Esa, manusia pun harus menjadi utuh. Pemisahan dalam bentuk apapun antara aktivitas profesional dan pencarian religius bukanlah hal yang baik. Kita tidak harus memisahkan aktivitas keilmuan dengan aktivitas religius. Tidak benar bahwa ilmu dan iman tidak berhubungan satu sama lain, bahwa keduanya sepenuhnya merupakan jalan berbeda dalam mendekati kenyataan. Pandangan ini merupakan salah satu cacat dari beberapa pendekatan terhadap agama dalam peradaban Barat, khususnya setelah Kant. Namun, saya pun harus menekankan bahwa pengetahuan sains tidaklah seperti pengetahuan religius.. Pada setiap saat, kita harus menyadari sifat-dasar dari aktivitas yang sedang kita lakukan; kita tidak mengerjakan doa seperti kita mengerjakan penelitian. Pemaduan aktivitas kita adalah penting, tetapi kita pun membutuhkan pembedaan. Kita harus teliti dalam hal ini. Clayton: Jadi, pemisahan Kantian antara dunia alam dengan dunia tanggung jawab moral dan kebebasan yang telah memengaruhi banyak pemikiran agam Kristen dan Yahudi pada dua atau tiga abad yang lalu, tidak diterima oleh Islam? Guiderdoni: Tidak, karena setiap perbuatan manusia memiliki makna etis.Agama meliputi kehidupan sehari-hari . Ada waktu-waktu ritual yang eksplisit; shalat lima kali sehari, umpamanya. Namun, di luar waktu-waktu itu, seluruh waktu kehidupan merupakan kesempatan untuk beribadah, dalam bentuk penjelajahan dunia. Dan penjelajahan dunia seperti apa pun akan memajukan pengetahuan. Karena penjelajahan dunia merupakn jalan mempelajari ciptaan Tuhan, aktivitas ini juga bernilai ibadah. Clayton: Bagi Islam, sebagaimana bagi agama Yahudi dan Kristen, alam semesta tidak hanya memiliki waktu yang linear, tapi juga sebuah telos (‘tujuan’,bahasa Yunani-peny. ) tertentu, tujuan yang ditetapkan Tuhan.. Bagaimana gagasan tujuan tersebut berdampingan dengan ilmu fisika dan astrofisika kontemporer? Guiderdoni: Dalam Al-Quran , banyak ayat yang menekankan tujuan Penciptaan Tuhan. Tujuan itu meluas hingga pada detail kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang diciptakan secara kebetulan. Segalanya dibuat dengan satu tujuan. Segala sesuatu merupakan tanda-tanda Tuhan: ayat. Kata tersebut merupakan salah satu kata penting dalam tradisi Islam; yang artinya bahwa segala yang ada di dunia, segala yang tampak oleh kita, sesungguhnya membawa pelajaran dari Tuhan. Maka, sekali lagi, sangatlah mudah untuk mengkaji sains modern dalam paradigma finalitas ini. Saya terheran-heran dengan perbedaan antara keberhasilan reduksionisme sebagai alat dan sebagai rancangan metodologis, dan kegagalannya sebagai rancangan filosofis. Eksplorasi kita terhadap detail fisika kosmos kini mengarah kepada sesuatu yang dapat dengan mudah dibaca sebagai finalitas. Semua”kebetulan” yang “ditafsirkan” dengan prinsip antropik dapat dibaca dengan mudah sebagai finalitas di dunia. Seorang Muslim tentunya tidak perlu bersusah payah untuk membaca hal itu. Yang mendapat masalah adalah orang-orang yang tak beriman, karena mereka memahami dunia ini sebagai sebuah bangunan raksasa yang berdiri di atas sejumlah sangat kecil pilar yang tertala-cermat (finely tuned): nilai-nilai konstanta fisika. Itulah yang menjadi masalah bagi mereka. Clayton: Argumen apa yang Anda pakai sebagai seorang fisikawan, tentang keberadaan rancangan dan tujuan dalam alam semesta ini? Guiderdoni: Telah banyak muncul karya tentang prinsip antropik, yang dirangkum dengan baik dalam buku karangan John Barrow, The Antropic Cosmological Principle. Secara historis, keluasan jagat raya telah digunakan sebagai arguman untuk menentang agama.Alasannya, jika jagat semesta demikian luas , manusia menjadi tidak ada artinya dan konsep adanya agama yang diwahyukan di planet kecil tempat kita tinggal pun tidak punya makna. Namun, kini kita tahu bahwa usia dan ukuran alam semesta yang bisa diamati berhubungan erat dengan kehadiran kita di bumi. Kita tidak dapat muncul di sebuah jagat raya yang memiliki usia dan ukuran yang berbeda (dari jagat raya yang kita huni sekarang). Usia alam semesta yang sangat tua diperlukan untuk pengayaan elemen berat, juga penting bagi pembentukan planet dan kemunculan kehidupan.Ukuran semesta Merupakn konsekuensi usianya. Kita memerlukan ukuran semesta seperti ukuran semesta kita ini dan waktu selama usia semesta kita ini, agar kita (manusia) dapat muncul dibumi. Clayton: Beberapa orang memberikan argumen-argumen fisika untuk mempertahankan apa yang biasa disebut prinsip antropik kuat. Apakah Anda bersimpati kepada pandangan yang menyatakan bahwa kemunculan kehidupan cerdas adalah sebuah keniscayaan tersebut dirancang di alam semesta sejak awal? Guiderdoni: Ya, saya sepakat. Menurut saya, hal itu merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari kerja-kerja terbaru dalam kosmologi modern. Semua”kebetulan” pada konstanta-konstanta fisika membuat kompleksitas yang amat besar menjadi mungkin. Sebagai orang beriman, saya menganut prinsip antropik kuat; segalanya telah dirancang dengan cara tertentu untuk memungkinkan keberadaan manusia. Clayton: Bolehkah saya menanyakan sifat-dasar prinsip tersebut? Ada orang bilang bahwa itu merupakan penjelasan metafisis. Ada yang bilang itu benar-benar merupakan kesimpulan fisika, bahwa prinsip itu bisa kita peroleh dari fisika, tanpa mesti beralih ke meta fisika. Guiderdoni: Untuk saat ini, saya katakan bahwa itu bukan suatu prinsip fisika. Itu adalah sesuatu yang berakar dalam sains, tetapi merupakan prinsip metafisika. Memang ini merupakan arus balik menuju metafisika yang mengejutkan, karena banyak filosof menyatakan bahwa kita telah membunuh metafisika sejak kemunculan filsafat Kantian pada akhir abad ke-18. Kini, metafisika dimunculkan kembali saat tidak diharapkan , oleh sains itu sendiri. Menurut saya, prinsip antropik tidak bisa dianggap sebagai prinsip fisika karena prinsip fisika harus bisa diprediksikan. Saya tidak tahu apakah telah muncul prediksi dari prinsip antropik. Namun, tentu saja kita tidak bisa menghilangkannya hanya karena prinsip ini punya makna metafisis. Clayton: Dalam sains dasawarsa lalu, sebagaimana yang Anda gambarkan, kesimpulan-kesimpul an metafisis dipengaruhi oleh karya-karya bidang astrofisika, bahkan mungkin bisa diuji melalui cara-cara tertentu. Riset fisika sebenarnya bisa memberi bukti untuk beberapa tinjauan metafisis. Apakah saya mendiskripsikan pendirian Anda itu dengan benar? Guiderdoni: Ya Anda benar. Kecenderungan dalam Islam selalu ke arah penyatuan. Maka, pernyataan bahwa metafisika bisa disingkirkan sepenuhnya dari sebarang bidang aktivitas atau pengetahuan manusia benar-benar tidak konsisten dengan pemikiran Islam. Dari sudut pandang sains modern, yang, setidak-tidaknya pada abad-abad lalu, berusaha meniadakan metafisika, kembalinya metafisika merupakan sebuah kejutan. Pemikiran Islam menekankan hubungan erat antara pendiskripsian jagat raya dan akar-akarnya dalam prinsip-prinsip metafisika dan spiritual. Keberhasilan reduksionisme sebagai sebuah metodologi keilmuan dan kegagalannya sebagai sebuah rancangan filsafat, menjadi dorongan kuat bagi pencarian jenis ilmu lain, cara lain untuk melihat kebenaran tunggal. Menurut saya, seluruh pemikiran Islam pun mengarah pada kesimpulan bahwa hanya ada satu kebenaran. Untuk mencapainya, kita memiliki banyak cara. Salah satunya adalah sains.. Baik kesuksesan maupun kegagalannya membesarkan hati. Kegagalannya, berupa ketiadaan jawaban-jawaban radikal, mungkin menjadi pendorong untuk beranjak kepada cara lain dalam memperoleh kebenaran. Mungkin jalan religius memiliki keistimewaan, dalam hal tertentu. Menurut saya, filsafat modern tidak menekankan pada pencarian kebenaran. Itu ditandai dengan lenyapnya metafisika. Jadi, mungkin agama adalah satu-satunya jalan yang tersisa bagi para ilmuan untuk mencoba memperoleh kebenaran. Clayton: Jadi, mungkin bisa dikatakan seperti ini: bahwa sebagai seorang ilmuan, saya takjub dengan improbabilitas bahwa saya — sebagai orang yang mengetahui — harus ada di sini. Saat saya tatap alam semesta, tampaklah ia seolah-olah tertala-cermat, sehingga kehidupan dapat berkembang. Kemudian, saya mengetahui prinsip antropik dalam fisika, atau pentingnya posisi pengamat dalam bidang fisika kuantum, sehingga saya berfikir pasti ada tujuan tertentu bagi kita. Saya berpaling dari agama untuk mencari tahu apakah tujuan itu dan apakah tanggung jawab moral saya di hadapan Tuhan. Demikiankah gagasan Anda ? Guiderdoni: Tepat sekali. Saya tidak menyukai penafsiran dualistik sains, khususnya mengenai mekanika kuantum. Saya menyukai realitas; saya adalah seoraang realis. Kita menduga bahwa ada realitas tersembunyi, sebuah “realitas terselubung”, sebagaimana dikatakan d’Espagnat. Kita mencoba untuk lebih dekat pada realitas ini melalui sains dan kita berhasil dalam beberapa hal. Namun, kita merasa bahwa kita membutuhkan suatu langkah kualitatif yang akan menggiring kita pada pertanyaan mengenai makna segala sesuatu. Menurut saya, kita hanya bisa memperoleh jawaban melalui pendekatan religius. Dan inilah sebabnya mengapa saya memandang dua aktivitas itu benar-benar komplementer.. Clayton: Islam,seperti halnya agama-agama Barat, mengajarkan bahwa umat manusia diciptakan bertanggung jawab secara moral, bebas, dan mampu berhubungan dengan Tuhan. Bagaimana pengertian manusia sebagai pribadi ini dapat dikatakan sesuai dengan teori sains mutakhir? Guiderdoni: Ini adalah pertanyaan yang berkaitan; manusia digambarkan dalam Al-Quran sebagai wakil Tuhan di bumi. Jadi, ia tidak berada di atas ciptaan. Mungkin dikatakan bahwa pada peradaban Barat, khususnya pandangan — dunia Cartesian, hanya manusialah yang mempunyai jiwa; maka ia bisa berbuat apapun yang diinginkannya di dunia ini. Dalam Islam, manusia tidak berada di atas penciptaan, tetapi berada di pusatnya. Dan kita harus mengatur ciptaan tersebut, atas nam Tuhan, seperti penjaga kebun yang baik.. Kita bertanggung jawab atas ciptaan dan tidak bisa mengubahnya semau kita. Manusia berada di bumi ini sebagai konsekuensi dari sejumlah krisis luar biasa dalam perkembangan alam semesta: krisis dalam pembentukan galaksi, pembentukan spektrum-spektrum bintang, evolusi bintang dan seterusnya, hingga pembentukan planet-planet dan munculnya kehidupan, serta seluruh periode perkembangan hidup dan sebagainya. Sains mengajarkan bahwa kita berada di puncak bangunan kosmis raksasa, yang berusia 10 milyar tahun. Islam membantu saya merasa nyaman, karena penekanannya terhadap ilmu dan nilai-nilai etika. Pengetahuan tidak bisa di capai secara terpisah dari pencarian nilai-nilai etika. Nilai etika yang sesungguhnya adalah tanggung jawab. Jadi, pandangan ilmiah ini, yang mengatakan bahwa manusia merupakan akibat dari apa yang dinamakan “kebetulan-kebetulan” dan krisis- krisis yang luar biasa banyaknya itu, seharusnya menuntun kita pada pandangan religius yang memandang manusia memiliki rasa tanggung jawab yang besar di muka bumi. Selain itu, hal yang sangat menarik adalah kemunculan manusia dalam kosmologi. Prinsip kosmologis menyatakan bahwa tempat yang “jauh” tidak ada bedanya dengan “di sini”; tidak ada posisi istimewa dalam jagat raya. Namun, hal ini membawa kemungkinan penjelajahan sejarah alam semesta. Karena kenyataan bahwa “yang jauh” sama dengan ” di sini”, maka sejarah alam semesta bisa di telusuri dengan mengamati benda-benda pada pergeseran merah (redshift) yang tinggi. Ini berarti pula bahwa jarak yang jauh memberi gambaran dari masa yang sangat lampau, karena cahaya berjalan pada kecepatan terbatas. Kita bisa merekonstruksi masa lalu alam semesta dan masa lau kita sendiri, sampai pada saat-saat pertama setelah terjanya Ledakan Besar. Jadi, kita berada pada posisi pusat; kita ada di pusat semesta yang bisa diamati. Dalam beberapa hal, kosmos kita sangatlah mirip dengan kosmos Abad pertengahan yang menempatkan manusia di pusat semesta. Tentu saja, kita tahu bahwa dunia ini tak terbatas. Namun, dunia yang bisa diamati adalah sebuah gelembung di keluasan alam semesta. Kita berada di posisi pusat seperti ini dalam upaya membangun pengetahuan kita mengenai dunia. Dengan kata lain, kita berada di sebuah lokasi yang sesuai untuk mengamati semesta karena bidang galaksi kita, umpamanya, memiliki sebuah sudut pandang bagus terhadap bidang Supergugus Lokal(Local Super Cluster). Kita tidak berada dalam sebuah awan molekular dan seterusnya. Semesta yang mengelilingi kita, Galaksi Bima Sakti, agak tembus cahaya. Dan kita bisa mengakses masa yang sangat lampau. Jika kita hidup di galaksi lain, atau dalam sebuah awan molekular, semesta di sekeliling kita akan benar-benar buram, kecuali bagi radiasi cahaya inframerah dan gelombang radio. Pasti ada lebih banyak halangan untuk mengungkap semesta ini. Ada banyak kemiripan dalam cara kita memandang dunia dengan cara Abad Pertengahan memandang dunia ini.. Bagi para pemikir Abad Pertengahan, batas jagat raya adalah bola langit(atau lebih tepatnya adalah Langit Kristal [Crystalline Sphere]), karena penemuan presesi ekuinoks (the precession of the equinoxes). Ini merupakan pembatasan yang amat tajam, pemisahan antara jagat raya di satu sisi dan Empyreum (lokus Singgasana Tuhan, ‘Arsy) pada sisi yang lain. Inilah batas maksimal bagi penciptaan. Dan kita pun memiliki batas ini, karena batas semesta yang bisa kita amati pun berbentuk sebuah bulatan. Pada permukaan bulatan itu, kita mendapatkan T=0 dan kita tidak bisa melihat lebih jauh. Lebih jauh lagi adalah masa lalu yang sudah terlalu lampau.. Itulah saat ledakan besar terjadi; yang merupakan misteri bagi kosmologi modern. Kita tahu bahwa dunia ini tidak terbatas dan penuh dengan bintang dan galaksi, tetapi kita punya pandangan yang dinamis terhadap jagat raya, kaitan yang erat antara menatap jarak yang jauh dan menggali masa lalu. Ketika kita melihat jauh, kita mencoba menggali asal mula keberadaan kita tetap sebagaimana Dante Alighieri menggambarkan secara alegoris dirinya mengarungi ruang angkasa untuk melihat wajah Tuhan. Ada banyak kemiripan lainnya antara pandangan Abad Pertengahan dengan sains modern mengenai jagat raya. Clayton: Saya ingin tahu, bagaimana pengaruh pengetahuan kita mengenai evolusi kehidupan terhadap pandangan religius terhadap individu. Menurut biologi evolusioner, kita sangat mirip dengan mahluk primata tingkat tinggi lainnya. Sebagian besar materi genetis kita sama dengan mereka. Apakah hal itu menimbulkan ketegangan pada keyakinan religius mengenai keunikan sosok individu sebagai wakil Tuhan ? Guiderdoni: Mungkin akan ada semacam tegangan jika Anda membaca Al-Quran secara harfiah. Namun,hal itu akan hilang jika kita mengkaji ayat-ayatnya secara terbuka. Penciptaan manusia digambarkan oleh Al-Quran sebagai berikut: Manusia diciptakan Tuhan dari dua unsur. Ia tercipta dari tanah liat (thin) dan ruh Tuhan (Ruh). Proses penciptaan ini dulu ditafsirkan sebagai penciptaan yang terjadi seketika. Namun, tak satupun petunjuk dalam ayat-ayat suci itu yang mengharuskan kita tiba pada kesimpulan ini, karena segala sesuatu yang di deskripsikan oleh (teori) evolusi bisa jadi terkait dengan bagian dari evolusi kosmik sejak awal, dari nukleosintesis pada bintang-bintang dan seterusnya, dan fakta bahwa unsur-unsur kita,”tanah liat”, ada pada bintang-bintang 5 milyar tahun lalu. Bagian tanah liat ini membuat kita sangat dekat dengan dunia ini, sangat dekat dengan hewan. Kita pun mempunyai bagian lainnya, yakni ruh Tuhan.. Ruh ini merupakan anugrah Tuhan, dan itu bukan satu-satunya alasan. Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir, tetapi pikiran bukan satu-satunya perbedaan. Berbeda dengan hewan, manusia memiliki kapasitas untuk mengenal Tuhan, untuk menyadari nama-nama-Nya dan sifat-sifat- Nya. Dalam tradisi Islam, manusia adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang memiliki kemampuan untuk menyadari seluruh asma Tuhan, seluruh sifat-sifat- Nya. Inilah anugrah dari Ruh Tuhan dalam diri kita. Dalam Islam, tak ada hal-hal yang menyebabkan penentangan terhadap kemungkinan bahwa bentuk dan sifat-sifat manusia yang sama dengan hewan (unsur hewaniah) merupakan hasil dari proses evolusi yang panjang. Al-Quran tidak menceritakan sejarah dunia. Ia adalah kitab yang khas, sebuah kitab yang mengiring perhatian manusia kepada fakta-fakta signifikan. Ini bukanlah sebuah buku teks ilmiah. Bagian-bagian dari Al-Quran sangat puitis dan misterius, dan ayat-ayatnya bisa di baca dengan berbagai cara. Selama Abad Pertengahan, Al-Quran sering di baca secara harfiah, sangat mirip dengan yang di lakukan orang-orang Yahudi atau Kristen. Namun, ayat-ayat itu selalu terbuka untuk ditafsirkan dan di baca kembali. Al-Quran menyatakan bahwa ada masa ketika manusia belum diciptakan. Manusia diciptakan untuk Tuhan, tetapi jagat raya di ciptakan untuk manusia, untuk menjadi tempat (lokus) pengetahuan kita mengenai Tuhan. Penciptaan manusia mungkin berlangsung dalam waktu yang sangat lama, tetapi hitungan waktu tidak benar-benar signifikan dari sudut pandang spiritual.. Yang penting adalah apa yang sedang terjadi sekarang dan kemampuan kita untuk memahami tindakan Tuhan di jagat raya. Clayton: Jadi, kisah-kisah tentang bagaimana segala sesuatu terjadi dan bahwa manusia berbeda dari hewan tidak begitu penting dalam Islam, jika dibandingkan dalam agama Kristen? Permasalahan yang penting adalah bagaimana pemahaman manusia saat ini di hadapan Tuhan, dan bagaimana ia hidup dan berperilaku. Apakah demikian? Guiderdoni: Ya, saya pikir begitu. Dalam Islam, ada penekanan bagi realisasi spiritual. Realisasi spiritual ini juga sama pentingnya dalam ajaran Buddha dan Hindu. Sebagai orang Barat, kita terbiasa menangani banyak masalah, yang sebagian tidak ada kaitannya dengan kita. Meskipun kita mencapai kesuksesan dalam penjelajahan jagat raya, tujuan penciptaan diri kita bukanlah penemuan jagat raya tersebut. Kita tidak memiliki deskripsi yang luar biasa mengenai sejarah jagat raya. Namun, terlepas dari penemuan-penemuan ini, hal yang penting justru terlupakan: realisasi spiritual manusia. Karenanya, kita butuh lebih banyak pengetahuan daripada yang bisa diberikan oleh sains. Kita di Barat biasa berpikir bahwa kita hanya bisa mengetahui apa yang bisa kita rumuskan menjadi konsep. Agama-agama Timur, termasuk Islam, yang merupakan agama Timur dari sudut pandang ini, mengajarkan bahwa kita bisa mengetahui leih banyak daripada yang bisa kita konsepsikan. Tentu saja, kita (bangsa Barat) sangat piawai memakai nalar kita. Namun, kita pun punya jenis kecerdasan lainnya. Kita mempunyai apa yang disebut oleh filosof Abad Pertengahan sebagai “intelek”, yakni kemampuan untuk merenungkan kebenaran. Jadi, jika kita ingin mencari tahu asal-usul keberadaan kita, kita bisa memperoleh bermacam-macam jawaban. Kita mendapatkan jawaban berdasarkan kosmologi modern, kita pun punya pendekatan spiritual dan mistis. Jawaban yang lengkap hanya bisa di temukan di akhirat, yang menurut tradisi Islam juga merupakan dunia pengetahuan. Di bumi, kita di batasi oleh hukum alam dan kita hanya bisa mendapat jawaban parsial atas pertanyaan-pertanya an penting. Di akhirat kelak pengetahuan- langsung akan tersingkap. Clayton: Dan intuisi spontan dari intellectus pun akan kita dapatkan, sementara di dunia ini kita hanya memiliki cara-cara terbatas untuk mengetahui, dengan nalar modern dan analisisnya, bukan dengan sintesis. Guiderdoni: Tepat sekali. Kita (Bangsa Barat) sangat berhasil dalam bidang algoritma. Namun, kita lupa bahwa ada jalan lain; kecerdasan tidak hanya bersifat analitis, tetapi juga memiliki sisi sintesis, sebagaimana yang tadi Anda katakan. Ia pun berhubungan dengan misteri kreativitas ilmiah dan penemuan ilmiah. Bagaimanakah sebuah gagasan bisa terbetik dalam benak seorang ilmuan? Ini merupakan pertanyaan besar. Kita bisa saja mengajari mahasiswa kita banyak hal mengenai sains, tetapi kita tidak bisa mengajari mereka bagaimana menemukan, karena kita benar-benar melupakan sisi kontemplatif dalam pikiran manusia dan aktivitas manusia secara umum. Dalam agama, kami menemukan kembali pentingnya jalan kontemplasi. Clayton: Bisakah amal dan ketaatan religius membuat kita lebih kreatif dan menambahkan bagi sisi analitis suatu cara berpikir yang lebih holistik? Guiderdoni: Menurut saya, itu mungkin saja. Kita mempunyai contoh orang-orang suci yang sangat kreatif, bukan hanya dalam Islam, tentu saja, melainkan di semua agama. Kami punya kesan bahwa beberapa jenis amal bisa membuka cakrawala berpikir atau membantu pikiran menghilangkan hambatan yang berhubungan dengan hawa nafsu, dan lain sebagainya. Mungkin amal seperti inilah yang bisa membuat seseorang lebih kreatif dan lebih efisien di duni ini. Namun, sekali lagi, itu bukan tujuan utama amal religius. Tujuan utamanya adalah bukanlah penemuan dunia ini, melainkan amal di dunia atas nama Tuhan. Melalui hal itu, kita bisa menemukan Tuhan. Clayton: Dasar keyakinan Islam adalah Tuhan tidak hanya merupakan Sang Pencipta, tetapi, dalam makna tertentu, juga Sang Pengatur. Dengan kata lain, Dialah Pengatur alam semesta. Apakah dalam tradisi Islam pemahaman mengenai Tuhan semacam ini berubah setelah bersentuhan dengan sains modern atau tetap tidak terpengaruh? Adakah penentangan terhadap keyakinan dan aktivitas Tuhan ini, dikarenakan perkembangan pengetahuan kita atas dunia fisikal ini? Guiderdoni: Ini pertanyaan yang sangat pelik dan ada beragam jawaban, sesuai dengan periode sejarah yang kita perhatikan. Kini , tidak terdapat perdebatan antara sains dan teologi Islam, karena teologi Islam sudah hampir lenyap. Saat ini kami, Dunia Islam, sedang berada dalam masa sulit. Ada dua kecenderungan utama dalam pemikiran Islam dewasa ini: yang pertama bisa disebut kecenderungan rasionalistis, atau modernisme, yang menerima hasil-hasil sains modern tanpa bersikap kritis. Kecenderungan ini berupa penerimaan menyeluruh terhadap semua hasil pemikiran dan teknologi modern, tanpa upaya kritis untuk mempertanyakan apakah hasil-hasil itu sesuai dengan pemikiran atau teologi Islam. Kecenderungan kedua adalah perspektif fundamentalis: segala sesuat yang datang dari peradaban Barat dianggap buruk hanya karena berasal dari Barat. Kaum fundamentalis ingin membangun sains Islam yang selaras dengan sains modern. Kaum fundamentalis menganggap sains modern sebagai sains Barat atau sains Kristen. Ini benar-benar bertolak belakang dengan tradisi intelek dan spiritual yang luar biasa dalam Islam. Sayangnya, perdebatan dalam Dunia Islam modern sangat langka. Harus ada jalan ketiga di antara kedua jalan ekstrem ini dalam memandang segala hal. Malangnya, kebanyakan pemikir Muslim lebih tertarik pada masalah sosial dari pada masalah fundamental, karena negara-negara Islam menghadapi begitu banyak masalah ekonomi dan sosial. Jadi, kebanyakan refleksi dalam Islam berpusat pada masalah-masalah tersebut. Namun sesungguhnya, secara historis –d an karena alasan yang sangat kuat — kecenderungan teologi Islam adalah membahas masalah-masalah fundamental terlebih dulu. Kita tidak bisa mengurusi masalah-masalah sosial atau ekonomi dengan baik tanpa berefleksi pada masalah-masalah fundamental terlebih dulu. Inilah kelemahan besar pemikiran Islam modern dan merupakan penyebab mengapa refleksi Islam modern terhadap masalah sosial dan ekonomi sering tidak mendalam. Itu pula penyebab mengapa kami tergiring pada situasi kekerasan sekarang ini. Pada dasarnya, filsafat Islam telah lenyap pada akhir Abad Pertengahan. Pemikiran Islam mengalami kemunduran kecuali pada bidang tasawuf. Pada bidang ini refleksi selalu ada, tetapi sedikit tersembunyi. Tidak mudah menemukan buku yang bagus atau seseorang yang merenungkan pertanyaan Anda tadi. Clayton: Apakah Anda memahami kerja yang Anda lakukan sebagai bagian dari upaya membantu perubahan teologi Islam supaya lebih memikirkan pertanyaan ini, umpamanya kerja Anda dengan televisi Prancis? Guiderdoni: Menurut saya, di Eropa kami lebih siap untuk menjawab pertanyaan-pertanya an semacam ini karena kami memiliki dasar-dasar intelektual. Kami hidup dengan pertanyaan-pertanya an semacam in. Mungkin kami lebih siap berpikir lebih tenang, karena kami tidak perlu menghadapi masalah-masalah ekonomi dan politik yang parah seperti di hadapi oleh banyak negara Muslim. Karenanya, kami punya kesempatan untuk berdiskusi. Contohnya, saya sering memberi kuliah tentang soal-soal ini di masjid-masjid dan menemui begitu banyak kaum muda Muslim yang tumbuh di Eropa dan telah meneima pendidikan budaya Barat. Mereka menanti refleksi semacam ini karena hal itu memang diperlukan. Clayton: Jadi, jika kita berangkat dari anggapan bahwa pemikiran Islam di wilayah ini berada pada tahap awal dan bahwa jawaban yang muncul pastilah sangat spekulatif di mata seorang Muslim, apa pendapat pribadi Anda mengenai hubungan antara Tuhan, aktivitas Tuhan di dunia, dan deskripsi fisikal realitas? Guiderdoni: Al-Quran tidak menjelaskan terlalu mendetail soal ini. Tapi, ada dua ayat yang bagi saya tampaknya sangat relevan. Satu ayat menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan matematis. Al-Quran mengatakan bahwa “matahari dan rembulan beredar menurut suatu perhitungan” (QS Al-Rahman 55 : 5). Ada “angka-angka’ di jagat raya. Al-Quran menarik perhatian pembacanya pada segala keteraturan di jagat raya. Ada juga ayat lainnya yang menyatakan bahwa “tiada yang berubah dalam ciptaan Tuhan”. Itu berarti ada keteraturan. Keteraturan yang kita lihat di alam dikarenakan terdapat tatanan sejak awal dan ini bisa di identifikasikan, tentu saja, dengan hukum-hukum alam yang di ciptakan oleh Tuhan. Tuhan membuat hukum-hukum alam menjadi mungkin. Tuhan adalah pemelihara hukum alam. Clayton: Mungkinkah ini merupakan sebuah pemahaman tentang tindakan Tuhan yang dibahasakan dalam istilah-istilah keteraturan alam dan sifat penciptaan yang seolah memang sengaja di tata? Guiderdoni: Benar: keteraturan dan tatanan yang terus berlangsung. Ada ayat lain yang sangat indah. Ayat itu menyatakan bahwa kita tak akan mampu menemukan “celah” dalam ciptaan Tuhan. Tak ada yang melenceng. Segalanya serba-teratur dan tertata.. Sebab, Tuhan sendiri adalah tatanan. Tuhan adalah keindahan. Dan keindahan yang kita lihat dalam jagat raya adalah bayangan keindahan Tuhan. Ini yang pertama. Hal kedua, yang tak mengejutkan, bahwa keteraturan ini secara mendasar bersifat intelektual. Mereka di bentuk oleh sebuah kecerdasan yang juga menciptakan kecerdasan kita. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila kita mampu menjelajahi jagat raya, karena jagat raya bukanlah sebuah negeri asing; ia tak berbeda dari kita. Kita dan alam semesta di ciptakan oleh Kecerdasan yang sama. Clayton: Dapatkah cara berpikir seperti ini membawa kita pada sebuah pandangan bahwa Tuhan mengendalikan alam semesta tidak dalam bentuk tindakan-tindakan langsung, tetapi dalam bentuk penciptaan awal berupa suatu tatanan yang kemudian membentuk sifat-sifat dunia di masa berikutnya? Atau perlukah menjaga konsep tentang tindakan Tuhan yang terus-menerus ? Guiderdoni: Dalam teologi Islam, ada doktrin yang disebut pembaharuan penciptaan pada setiap saat. Alasannya adalah bahwa keteraturan di dunia tidak hanya sekadar ada; mereka tak bisa berjalan jika Tuhan tidak memperbarui mereka setiap saat.. Gagasan ini juga terdapat dalam filsafat Barat dengan nama “oksionalisme”. Teologi Islam menggunakan gagasan fisika atomistik, sehingga tentu saja cukup mirip dengan cara pandang kita sekarang terhadap jagat raya, yang juga bersifat atomistik. Namun, teologi klasik Asy’ariyyah, yang berkembang selama abad ke-19 dan ke-10 Masehi, menyatakan bahwa Tuhan menciptakan atom-atom dan aksiden-aksiden setiap saat. Dengan demikian, atom tak memiliki kemampuan untuk berbuat terhadap atom lain karena atom-atom tak cukup mengada. Kausalitas sepenuhnya diadakan oleh Tuhan. Ada sebuah contoh klasik yang diberikan oleh Imam Al-Ghazali, salah seorang pemikir agung Islam. Ia mengatakan bahwa api pada dasarnya tak memiliki kemampuan untuk membakar selembar kertas. Jika kita mendekatkan api pada secarik kertas, kita melihat kertas itu terbakar, tetapi ini bukan karena kita mendekatkan api pada kertas itu. Ini adalah kehendak Tuhan karena api tak memiliki kapasitas dalam dirinya untuk membakar. Ini merupakan sebuah pernyataan yang kuat dan sangat bertentangan dengan cara kita memandang kausalitas di dunia. Kita bisa menerima bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan kausalitas, dengan hukum-hukum, tetapi kita merasa bahwa setelah momen penciptaan, Tuhan membiarkan hukum-hukum itu berjalan sendiri secara mekanistis. Teologi Islam klasik menyatakan bahwa pada akhirnya perdebatan tentang kausalitas amatlah rumit dan secara esensial bersifat metafisis. Siapakah yang membuat hukum alam? Apakah hukum-hukum alam terletak pada materi? Mengapa harus ada hukum alam? Newton mengatakan bahwa hukum gravitasi di mungkinkan karena Tuhan ada dan memelihara hukum gravitasi agar tetap ada sepanjang waktu. Akhirnya, saya pikir teologi Islam juga sama. Persoalan-persoalan kausalitas dan kekekalan hukum-hukum fisika adalah pertanyaan-pertanya an utama yang tak terpecahkan oleh filsafat kita. Orang Barat cenderung membayangkan hukum alam sebagai sebuah deskripsi bersifat perkiraan atas segelintir keteraturan di dunia. Dalam cara pandang ini, materi akan didominasi oleh sebab dan kebetulan, dan kita berusaha menjelaskannya dengan meraba-raba. Namun, dalam cara pandang teologi Islam, hukum-hukum alam adalah “isi” alam semesta. Keteraturan, simetri, dan hukum-hukum kekekalan, itu semua hanya penjelasan kita, cara pikir kita tentang “materi”. Ini karena materi diciptakan oleh intelek. Ia di buat dengan simetri dan matematika. Clayton: Alangkah menakjubkan. Kini, izinkan saya beralih ke pertanyaan terakhir, sebuah pertanyaan pribadi. Dengan cara bagaimanakah keyakinan agama Anda memotivasi kerja ilmiah Anda dan apakah riset ilmiah atau astrofisika mengilhami keyakinan religius Anda? Guiderdoni: Barangkali, langkah pertama dalam sebuah perjalanan spiritual akan terkecewakan oleh sejumlah pertanyaan yang tak terjawab dan kita mencoba untuk mencari pengetahuan dengan cara lain ; contohnya dengan bemuhibah ke negeri-negeri Timur, meninggalkan segala kehidupan modern dan menyepi di biara atau padepokan. Namun, itu merupakan pengingkaran kenyataan. Latihan religius yang saya tempuh telah mengajari saya bahwa kita harus menerima realitas apa adanya, sesuai dengan batas-batas kita. Namun, kita harus juga menerima segala keindahan dan kekayaannya. Sains memiliki banyak batasan, tetapi juga memiliki keindahan dan daya tarik yang luar biasa. Inilah alasan mengapa saya terus menggelutinya dan berharap dapat mengembangkan diri di masa depan. Namun, saya melihat kedua aktivitas ini mengarah pada satu realitas yang sama. di copas dari ๑۞๑ Lentera Mualaf ๑۞๑ pada 09 mei 2012 · ·

Selasa, 28 September 2010

PENGERTIAN ASWAJA
5.11.2010
Dalam istilah masyarakat
Indonesia, Aswaja merupakan
singkatan dari Ahlussunnah wal
jama'ah. ada tiga kata yg
membentuk kata tersebut.
1. Ahl, berarti keluarga,
golongan atau pengikut.
2. Al-Sunnah, yaitu segala
sesuatu yg datang dari Nabi
Muhammad yang berupa
perbuatan, ucapan, dan
pengakuan Nabi Muhammad.
3. Al-Jama'ah, yaitu apa yg
disepakati oleh para sahabat
Rosulullah pd masa Khulafaur
Rosyidin (Abu Bakar, Umar bin
Khottob, Utsman bin Affan dan
Ali bin Abi Tholib)
Kata al-Jama'ah ini diambil dari
sabda Nabi saw: "Barangsiapa
yang ingin mendapatkan
kehidupan yg damai di surga,
maka hendaklah ia mengikuti al-
Jama'ah (HR. Tirmidzi dan Hakim,
hadits shohih menurut al-
Dzahabi)
Syekh Abdul Qodir al-Jaelani
(471-561 H) menjelaskan:
"Al-Sunnah adl apa yg telah
diajarkan oleh Rosulullah saw.
(meliputi ucapan, perilaku, serta
ketetapan beliau). Sedangkan al-
Jama'ah adalah segala sesuatu yg
telah menjadi kesepakatan para
sahabat Nabi saw. pada masa
Khulafaur Rosyidin yang empat,
yg telah diberi hidayah (mudah-
mudahan Allah memberi rahmat
kpd mereka semua) (Al-Ghunyah
li Tholibi Thoriq al-Haqq, Juz 1,
hal 80)
Lebih jelas lagi hadratus syekh
KH. Hasyim Asy'ari (1287-1336 H)
menyebutkan dalam kitabnya
Zidayat Ta'liqot hal. 23-24,
sebagai berikut:
"Adapun Ahlussunnah wal
Jama'ah adalah kelompok ahli
tafsir, ahli hadits dan ahli fiqh.
Merekalah yg mengikuti dan
berpegang teguh dg sunnah
Nabi saw. dan sunnah Khulafaur
Rosyidin sesudahnya. Mereka
adalah kelompok yg selamat (al-
Firqoh al-Najiyah). Mereka
mengatakan, bahwa kelompok
tersebut sekarang ini terhimpun
dalam madzhab yang empat,
yaitu madzhab Hanafi, Syafii,
Maliki dan Hanbali."
Pada hakikatnya ajaran Nabi saw.
dan para sahabatnya tentang
aqidah itu sudah termaktub
dalam al-Qur'an dan Sunnah.
Akan tetapimasih berserakan
dan belum tersusun secara
sistematis. Baru pada masa
setelahnya, ada usaha dari
ulama' Ushuluddin yg besar yaitu
Imam Abu Hasan al-Asy'ari yg
lahir di Bashra tahun 260 H dan
wafat tahun 324 H, juga Imam
Abu Mansur al-Maturidi yg lahir
di Maturid, Samarkand,
Uzbekistan, dan wafat tahun 333
H, Ilmu Tauhid dirumuskan
secara sistematis agar mudah
dipahami. Kedua ulama' tersebut
menulis kitab2 yg cukup banyak.
Imam al-Asy'ari misalnya,
menulis kitab al-ibanah 'an
Ushul al-Diniyah, Maqolat al-
Islamiyyin, dll. Sedangkan Imam
al-Maturidi menulis kitab al-
Tauhid, Ta'wilat Ahl al-Sunnah,
dll. Karena jasa yg besar dari
kedua ulama' tersebut, sehingga
penyebutan Ahlussunnah wal
Jama'ah selalu dikaitkan dengan
kedua ulama' tersebut.
Sayyid Murtadha al-Zabidi
mengatakan:
"Jika disebut Ahlussunnah wal
jama'ah, maka yg dimaksud adl
para pengikut Imam al-Asy'ari
dan Imam al-Maturidi (Ithaf al-
Sadah al-Muttaqin, juz 2 hal. 6)
Pesantren2 di Indonesia secara
umum mengajarkan Ilmu Tauhid
menurut rumusan Imam al-
Asy'ari dan Imam al-Maturidi
dengan menggunakan kitab yg
lebih sederhana dan ditulis oleh
para pengikut kedua imam
tersebut, seperti kitab Kifayatul
'Awam, Ummul Barohain,
'Aqidatul 'Awam, dll.
Dari penjelasan di atas, dpt
dipahami Ahlussunnah wal
jama'ah bukanlah aliran baru yg
muncul sebagai reaksi dari
beberapa aliran yg menyimpang
dari ajaran Islam yg sebenarnya.
Tetapi Ahlussunnah wal Jama'ah
adalah Islam yang murni
sebagaimana yg diajarkan Nabi
saw. dan sesuai dg apa yg telah
digariskan dan diamalkan oleh
para sahabatnya.
dan insya Allah ana akan
sampaikan lewat inbox tentang
aqidah Asya'iroh (pengikut Imam
al-Asy'ari) aqidah Ahlussunnah
wal Jama'ah berdasarkan kitab
'Aqidatul 'Awam
Diposkan MWC NU JEKULO
Jekulo Selasa, Mei 11, 2010

Minggu, 01 Agustus 2010

Islam Keras dan Santun

Tema radikalisme Islam kembali
mencuat. Sebutannya pun bisa
beragam, seperti ekstrem kanan,
fundamentalis, dan militan. Ada
juga yang menyebut radikal
dengan sebutan Neo-Khawarij
dan Khawarij abad ke-20.
Radikalisme sekelompok Muslim
tidak dapat dijadikan alasan
untuk menjadikan Islam sebagai
biang keladi radikalisme. Yang
pasti, radikalisme berpotensi
menjadi bahaya besar bagi masa
depan peradaban manusia.
Gerakan radikalisme bukan
sebuah gerakan spontan, tetapi
memiliki faktor pendorong.
Gejala kekerasan ”agama” bisa
didudukkan sebagai gejala sosial-
politik daripada gejala
keagamaan. Akar masalahnya
bisa ditelusuri dari sudut sosial-
politik dalam kerangka
historisitas manusia.
Faktor lain adalah sentimen
keagamaan dan solidaritas
keagamaan untuk kawan yang
tertindas oleh kekuatan tertentu.
Namun, hal ini lebih tepat
disebut faktor emosi keagamaan,
bukan faktor agama an sich,
meski gerakan radikalisme selalu
mengibarkan simbol agama
seperti jihad dan mati syahid.
Emosi keagamaan adalah agama
sebagai pemahaman realitas,
bersifat. Jadi, sifatnya nisbi dan
subyektif.
Faktor kultural juga memiliki
andil besar yang
melatarbelakangi munculnya
radikalisme. Secara kultural, di
masyarakat selalu ditemukan
usaha untuk melepaskan diri dari
jerat jaring-jaring kebudayaan
yang dianggap tidak sesuai.
Faktor kultural adalah sebagai
antitesa terhadap budaya
sekularisme Barat yang dicap
sebagai musuh besar.
Islam Indonesia
Islam adalah agama ”pendatang”
karena berasal dari Timur
Tengah. Namun, berkat proses
transformasi yang berjalan
damai, Islam menjadi bagian tak
terpisahkan kehidupan bangsa
Indonesia. Sesuai makna dasar
Islam, dari kata aslama,
bermakna ”damai”, ternyata
para pembawa panji-panji Islam
tempo dulu mampu
menyebarkan agama Islam
dengan damai.
Penyebaran Islam di Indonesia
berjalan lancar dan tidak
menimbulkan konfrontasi
dengan pemeluk agama
sebelumnya. Masuk melalui
pantai Aceh, Islam dibawa para
perantau dari berbagai penjuru,
seperti Arab Saudi dan sebagian
dari mereka ada yang berasal
dari Gujarat.
Penyebab proses Islamisasi
berjalan damai karena
kepiawaian para mubalig dalam
memilih media dakwah, seperti
sosial budaya, ekonomi, dan
politik. Dalam penggunaan
media budaya, sebagian mubalig
memanfaatkan wayang sebagai
salah satu media dakwah. Sunan
Kalijaga, misalnya, mampu
menarik simpati rakyat Jawa yang
amat akrab dengan budaya dan
tradisi Hindu-Buddha.
Para pembawa panji Islam juga
memanfaatkan aspek ekonomi
untuk mengembangkan nilai-nilai
dan ajaran Islam. Dari berbagai
literatur terungkap, aspek itu
menempati posisi strategis dalam
upaya Islamisasi di Nusantara.
Salah satu faktor yang
mendorong minat masyarakat
Nusantara mengikuti agama para
pedagang itu karena tata cara
dagang serta perilaku sehari-hari
lainnya dianggap menarik
sanubari masyarakat setempat.
Setelah kokoh menancapkan
pengaruhnya di Indonesia, peran
Islam lambat laun meningkat ke
wilayah politik melalui upaya
mendirikan kerajaan Islam,
antara lain Kerajaan Pasai,
Demak, Mataram, dan Pajang.
Lalu, semua itu mengalami
keruntuhan karena adanya
berbagai faktor, baik konflik
internal di antara anggota
keluarga kerajaan maupun
faktor eksternal seperti serbuan
kolonialis Portugis dan Belanda.
Namun, posisi Islam tetap kukuh
dan kian menyatu dengan
kehidupan masyarakat dan
hampir selalu memperlihatkan
wajahnya yang ramah dan
santun. Gejolak yang sifatnya
radikal nyaris tak terdengar.
Dakwah santun
Memahami Islam secara
tekstualistik akan mendatangkan
sikap ekstrem. Padahal, Al Quran
tidak melegitimasi sedikit pun
perilaku dan sikap yang
melampaui batas. Dalam konteks
ini, ada tiga sikap yang
dikategorikan ”melampaui
batas”.
Pertama, ghuluw, bentuk
ekspresi berlebihan manusia
dalam merespons persoalan
hingga mewujud dalam sikap-
sikap di luar batas kewajaran
kemanusiaan.
Kedua, tatharruf, sikap
berlebihan karena dorongan
emosional yang berimplikasi
kepada empati berlebihan dan
sinisme keterlaluan dari
masyarakat.
Ketiga, irhab, yang mengundang
kekhawatiran karena bisa
membenarkan kekerasan atas
nama agama. Irhab adalah sikap
dan tindakan berlebihan karena
dorongan agama atau ideologi.
Idealnya, seorang Muslim harus
memahami ajaran Islam secara
utuh, hingga berdampak sosial
yang positif bagi dirinya.
Alangkah kering dan gersangnya
agama jika aspek eksoterik
dalam Islam hanya sebatas legal-
formal dan tekstualistik. Sebuah
ayat tentang jihad akan terasa
gersang jika pemahamannya
dimonopoli tafsir ”perang
mengangkat senjata”. Padahal,
jihad pada masa Rasulullah
merupakan wujud pembebasan
rakyat untuk menghapus
diskriminasi dan melindungi hak-
hak rakyat demi terbangunnya
tatanan masyarakat yang
beradab.
Puncak keberagamaan seseorang
terletak pada sikap arif dan
bijaksana (al-hikmah). Di sinilah
perlunya mengedepankan aspek
esoteris Islam. Sisi ini merupakan
pemahaman keislaman yang
moderat, serta bentuk dakwah
yang mengedepankan qaulan
karima (perkataan yang mulia),
qaulan ma ’rufa (perkataan yang
baik), qaulan maisura (perkataan
yang pantas), qaulan layyinan
(perkataan yang lemah lembut),
qaulan baligha (perkataan yang
berbekas pada jiwa), dan qaulan
tsaqila (perkataan yang berat).
Semua sikap itu telah
diamanatkan dalam Al Quran.
Said Aqiel Siradj
Ketua PBNU
Dimuat HU Kompas, Jumat, 4
September 2009

Minggu, 11 Juli 2010



Sebuah Catatan TentangSyaikhAl-Albani bgn.2

No. 3 : (Hal. 10 no. 3)
Hadis : Diantara manusia
yang terjelek dalam
pandangan Allah pada
hari
kiamat, adalah seorang
lelaki yang mencintai
istrinya dan istrinya
mencintainya juga,
kemudian ia
mengumumkan rahasia
istrinya (HR. Muslim No.
1437 – versi bahasa arab).
Al-Albani mengklaim
bahwa hadis ini ‘Dhoif’
dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa
Ziyadatuhu, 2197 no.
2005 ′. Sekalipun hadis ini
diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari Abi Sayid
ra. !!!
No. 4 (Hal. 10, no. 4)
Hadis : “Jika seseorang
bangun pada malam hari
(untuk sholat malam -
pent), hendaknya ia
mengawali sholatnya
dengan 2 raka ’at yang
ringan (HR. Muslim No.
768). Al-Albani
mengatakan bahwa hadis
ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif
Al-Jami’ wa Ziyadatuhu
I213 no. 718′. Walaupun
hadis ini diriwayatkan
oleh Imam Muslim dari
Abu Hurairah ra. !!
No. 5 : (Hal. 11 no. 5)
Hadis : ‘Engkau akan
dibangkitkan dengan
kening ,tangan, dan kaki
yang
bercahaya pada hari
kiamat, dengan
menyempurnakan
wudhu ..’ (HR. Muslim No.
246). Al-Albani mengklaim
bahwa hadis ini ‘Dhoif’
dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa
Ziyadatuhu’ 2/14 no. 1425′.
Sekalipun hadis ini
diriwayatkan oleh oleh
Imam Muslim dari Abu
Hurairah ra. !!
Diambil dari afiq pradana dlm
situs NU online

Sebuah Catatan TentangSyaikhAl-Albani

Al-Albani berkata dalam
kitab “Sharh al-Aqeedah
at-Tahaweeah, hal. 27-28″
(edisi kedelapan, Maktab
al-Islami) oleh Syeikh Ibn
Abi Al-Izz al-Hanafi
(Rahimahullah), bahwa
hadis apapun yang
datang dari koleksi Imam
Bukhori dan Imam Muslim
adalah Shohih, bukan
karena ia diriwayatkan
oleh Imam Bukhori dan
Muslim, tetapi karena
pada faktanya hadis-
hadis ini memang shohih.
Akan tetapi kemudian ia
melakukan sesuatu yang
bertentangan apa yang ia
katakan sebelumnya,
setelah ia mendhoifkan
sejumlah besar hadis-
hadis yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhori dan
imam Muslim !? Baik,
marilah sekarang kita
melihat bukti-buktinya :
SELEKSI TERJEMAHAN
DARI JILID II
No. 1 : (Hal. 10 no. 1)
Hadis : Nabi SAW
bersabda : ”Allah SWT
berfirman bahwa ‘Aku
akan menjadi musuh dari
tiga kelompok orang : 1).
Orang yang bersumpah
dengan nama Allah
namun ia merusaknya, 2).
orang yang menjual
seseorang sebagai budak
dan memakan harganya,
3). Dan orang yang
mempekerjakan seorang
pekerja dan mendapat
secara penuh kerja
darinya (sang pekerja -
pent) tetapi ia tidak
membayar gajinya (HR.
Bukhori no. 2114 -versi
bahasa arab, atau lihat
juga versi bahasa inggris
3430 hal. 236). Al-Albani
menyatakan bahwa hadis
ini dhoif dalam ‘Dhoif Al-
Jami’ wa Ziyadatuhu’,
4111 no. 4054′. Sedikitnya
apakah ia tidak
mengetahui bahwa hadis
ini diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan Bukhori
dari Abu Hurairah ra. !!!
No. 2 : (Hal. 10 no. 2)
Hadis : ‘Berkurban itu
hanya untuk sapi yang
dewasa, jika ini
menyulitkanmu maka
dalam hal ini
kurbankanlah domba
jantan !! (HR. Muslim no.
1963 – versi bahasa arab,
atau lihat versi bahasa
inggris 34836 hal. 1086).
Al-Albani menyatakan
bahwa hadis ini ‘Dhoif’
dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa
Ziyadatuhu’, 664 no. 6222′.
Sekalipun hadis ini
diriwayatkan oleh Imam
Ahmad, Muslim, Abu
Dawud, Nasa ’i dan Ibn
Majah dari Jabir ra. !!!
diambil dari afiq pradana dalam
situs NU online

Pandangan Hadratusy SyaikhHasyim Asy'ariTentangPeringatan Maulid

Kutipan Bebas Dari Kitab
al-Tanbihat al-Wajibat Li Man
Yashna ’ al-Mawlid Bi al-
Munkarat
Karya Hadratusy Syaikh Hasyim
Asy ’ari
Buku ini terdiri muqaddimah, 10
Tanbih, khatimah, 3
penjelasan tambahan, tadznib
(epilog) yang dikutip dari ‘Izz
al-Din bin ‘Abd al-Salam
a. Muqaddimah
Hadratusy syaikh memulai
muqaddimah kitabnya dengan
kutipan hadis, “Kullu bid’ah
dhalalah”.
Pada malam Senin, 25 Rabiul
Awal 1355 H, saya mendapati
sekelompok santri di beberapa
pesantren menyelenggarakan
perayaan Maulid. Mereka
mendatangkan alat-alat malahi
(musik), dan melakukan
kemunkaran seperti pencak silat,
tinju, dan permainan rebana,
setrek (ketoprak), judi, joget-
joget, tertawa terbahak-bahak,
teriak-teriak, di hadapan
perempuan-perempuan yang
bukan mahramnya. Sebagian
dari mereka bahkan melakukan
ikhthilath, di mana laki-laki
dan perempuan bercampur baur.
Kemunkaran ini dilakukan
setelah pembacaan ayat Alquran,
khabar-khabar tentang
Rasulullah, dan sirah beliau.
Melihat hal ini, akupun menegur
dan melarang mereka. Kemudian
merekapun membubarkan
diri.
Kekhawatiran akan terjadinya
kembali peristiwa ini, yang
bisa jadi membuat masyarakat
yang awam keluar dari agama
Islam (murtad) tanpa mereka
sadari, maka akupun menulis
Tanbihat ini sebagai sebuah
nasihat dariku kepada kaum
muslimin.
b. Sepuluh Tanbihat
Pertama, peringatan maulid
sebagaimana yang dikehendaki
ulama, yaitu berkumpulnya
sekelompok orang yang
membaca
Alquran, sirah rasulullah, dan
menyantap hidangan yang
disediakan. Ada juga yang
menabuh rebana dengan tetap
menjaga etika dan kesopanan.
Hadratusy syaikh mengutip Abu
Syamah dalam kitabnya al-
Ba ’its Fi Inkar al-Bida’ wa al-
Hawadits yang menyatakan
bahwa salah satu bid’ah yang
terbaik yang ada di zamannya
adalah tradisi peringatan mauled
rasulullah yang
dimanifestasikan dalam bentuk
sedekah, kegembiraan, dan
berbuat baik kepada kaum
dhuafa.
Pada tanbih pertama ini,
Hadratusy syaikh banyak
mengutip
riwayat (hadis) dan pendapat
ulama terkait anjuran
bergembira dengan mawlid
rasulullah. Beliau mengutip hadis
riwayat al-Tirmidzi tentang
kebolehan membunyikan rebana
di masjid saat mengumumkan
pernikahan. Beliau mengkritik
al-Tirmidzi yang mendhaifkan
hadis tersebut.
Kedua, Hadratusy syaikh kembali
menyatakan keharaman
peringatan mauled yang disertai
kemunkaran. Beliau
mengutip al-Baydhawi dalam
Tafsirnya, “Ketaatan yang
memunculkan kemaksiatan yang
rajih (lebih dominan dari
pada ketaatan itu sendiri) wajib
ditinggalkan. Karena segala
sesuatu yang menjerumuskan kita
ke dalam keburukan
adalah buruk ”.
Ketiga, Hadratusy syaikh
mengutip ucapan al-Fakihani,
seorang ulama mazhab Maliki
tentang keharaman
peringatan mauled yang disertai
kemunkaran. Sementara
ketika peringatan mauled ini
dilakukan berupa
berkumpulnya sekelompok orang
yang menyantap hidangan
yang disediakan, maka hukumnya
bid ’ah yang makruhah.
Pendapat al-Fakihani yang
menyatakan kemakruhan mauled
yang diselenggarakan tanpa
kemunkaran ini dikritik oleh
Yusuf al-Dajawi.
Keempat, Hadratusy syaikh
mengutip Abu ‘Abdullah bin al-
Haj, seorang ulama mazhab
Maliki, tentang keharaman
perayaan mauled dengan disertai
kemunkaran.
Kelima, Hadratusy syaikh
mengutip Ibn Hajar (al- ‘Asqalani)
yang menyatakan bahwa
peringatan mauled adalah bid’ah
yang memuat kebaikan dan
keburukan. Jika mauled
dilaksanakan dengan cara yang
benar dan menjauhi
kemaksiatan, maka ia menjadi bid
’ ah hasanah. Demikian pula
sebaliknya jika mauled
dilaksanakan dengan disertai
kemunkaran, maka ia adalah bid
’ ah yang haram. Al-‘Asqalani
kemudian menyatakan riwayat
yang menyatakan anjuran
menampakkan kegembiraan atas
lahirnya rasulullah, dan
manifestasi kegembiraan yang
diperbolehkan (yaitu dengan
ibadah).
Keenam, Hadratusy syaikh
mengutip al-Qadhi ‘Iyadh tentang
kewajiban memuliakan rasulullah
yang salah satunya berupa
peringatan hari kelahirannya. Al-
Qadhi menyatakan bahwa
rasulullah wajib dimuliakan baik
saat beliau hidup maupun
setelah kemangkatannya.
Ketujuh, Hadratusy syaikh
mengutip Ibn al-Haj al-Fasi
tentang keharaman memuliakan
sesuatu bukan pada
tempatnya. Demikian juga haram
hukumnya menggunakan
sesuatu yang menghinakan pada
sesuatu yang dimuliakan.
Kedelapan, Hadratusy syaikh
mengutip al-Qadhi ‘Iyadh
keharaman menghina rasulullah.
Kesembilan, Hadratusy syaikh
memaparkan bahwa
merayakan mauled dengan
disertai kemunkaran adalah
perbuatan yang sangat buruk.
Kesepuluh, Hadratusy syaikh
memaparkan kemunkaran yang
dilakukan bersamaan dengan
peringatan mauled, seperti
memubadzirkan harta dan
berlebihan dalam berdandan
(dan
berpakaian). Hadratusy syaikh
juga membahas banyak hal
pada tanbih ini.
c. Khatimah
Hadratusy syaikh mengulas
tentang tradisi NU (Nahdhatul
‘ Ulama) dalam memperingati
mauled. Beliau memaparkan
dalil membaca (Alquran) dengan
suara yang merdu
Buku ini selesai ditulis pada hari
Ahad, 14 Rabi ’ al-Tsani 1355
H (ditulis dalam rentan waktu
kira-kira delapan belas hari).

PERINGATAN HARIKELAHIRANNABI DALAMPEMAHAMANULAMA “SALAFI”DAN ULAMATERDAHULU

Dikutip dari Buku Maulid
dan Ziarah ke Makam
Nabi saw ( SERAMBI )
oleh Mawlana Syaikh
Hisyam Kabbani ar-
Rabbani qs
Pandangan Ibn
Taymiyyah tentang
Maulid dan
Penyimpangan Kaum
Salafi dari Pandangannya
( Kutipan berikut
merupakan pandangan
Ibn Taymiyyah tentang
maulid sebagaimana
diuraikan dalam
kitabnya, al-Fatâwâ:26 )
Demikian halnya apa
yang diada-adakan oleh
sebagian orang dengan
menganalogikan pada
orang-orang Nasrani
yang merayakan
kelahiran Isa, atau
karena rasa cinta kepada
Nabi saw dan untuk
memujanya, Allah swt
akan memberi mereka
pahala atas cinta dan
usahanya ini, bukan atas
kenyataan bahwa itu
suatu bidah …
Merayakan dan
menghormati kelahiran
Nabi saw dan
menjadikannya sebagai
saat-saat yang
dihormati, sebagaimana
dilakukan oleh sebagian
orang, adalah baik, dan
padanya ada pahala yang
besar, karena niat baik
mereka dalam
menghormati Nabi saw.
Karena kesetiaan
mereka kepada Ibn
Taymiyyah, tampaknya
kaum Salafi tidak dapat
memaafkannya atas
ucapannya ini. Seorang
editor majalah kaum
Salafi, Iqtidhâ’,
Muhammad al-Fiqqî,
menulis dua halaman
catatan kaki untuk teks
tersebut. Di dalamnya ia
berteriak keras, “Kayfa
yakûnu lahum tsawâb
‘alâ hâdza? … Ayyu
ijtihâd fî hâdzâ??
(Bagaimana mungkin
mereka dapat
memperoleh pahala
untuk hal tersebut? …
Ijtihad macam apa ini??)”
Para ulama Salafi
kontemporer bisa
dikatakan berlebihan
dan menyimpang
menyangkut peringatan
maulid ini. Mereka
mengganti sikap Ibn
Taymiyyah tersebut
dengan ketetapan
hukum mereka sendiri,
padahal sikap Ibn
Taymiyyah tersebut
mestinya cukup buat
mereka. Pengarang
Salafi yang lain, Manshûr
Salmân, juga bersikap
demikian dalam
menerangkan al-Bâ‘its
‘alâ Inkâr al-Bida‘ karya
Abû Syâmah, karena Abû
Syâmah bukannya
mengkritisi peringatan
maulid, tetapi justru
menyatakan, “Sungguh
itu suatu
bidah yang patut dipuji
dan diberkati.”
Dalam teks yang
disebutkan di atas, Ibn
Taymiyyah juga
menyebutkan suatu
fatwa oleh Ahmad ibn
Hanbal, imamnya mazhab
fikih Ibn Taymiyyah,
tatkala orang-orang
bercerita kepada Imam
Ahmad mengenai
seorang pangeran yang
membelanjakan 1000
dinar untuk membuat
hiasan Alquran, beliau
mengatakan: “Itulah
tempat terbaik baginya
untuk menggunakan
emas.”
Apakah Ibn Taymiyyah
sedang mempromosikan
bidah tatkala beliau
membolehkan
peringatan maulid
“sebagaimana dilakukan
oleh sebagian orang”?
Tidak. Beliau tidak hanya
membolehkannya, tetapi
beliau menyebutkan pula
bahwa peringatan maulid
yang mereka lakukan itu
“baik dan padanya ada
pahala”. Apakah Imam
Ahmad sedang
melakukan suatu bidah
tatkala beliau
membolehkan menghiasi
Alquran dengan emas?
Jawaban atas kedua
pertanyaan tersebut
adalah tidak.
Pembolehan peringatan
hari kelahiran Nabi saw.
oleh Ibn Taymiyyah ini,
yang oleh para
pendukungnya telah
diartikan secara keliru
sebagai suatu kritik atas
peringatan maulid, telah
disebut-sebut oleh para
ulama Suni seperti Sa‘îd
Hawwâ, Muhammad ibn
‘Alawî al-Mâlikî, ‘Abd al-
Karîm Jawwâd, al-Sayyid
Hâsyim al-Rifâ‘î, dan dua
syekh dari golongan
Qarawiyyin, yaitu ‘Abd
al-Hayy al-Amrûnî dan
‘Abd al-Karîm Murâd.27
Pendapat Ibn Taymiyyah
tentang Halaqah Zikir
Berikut adalah
pandangan Ibn
Taymiyyah mengenai
pertemuan-pertemuan
untuk berzikir bersama:
Ibn Taymiyyah pernah
ditanya mengenai orang-
orang yang berkumpul di
dalam masjid untuk
berzikir dan membaca
Alquran, berdoa kepada
Allah, membiarkan
kepalanya terbuka tanpa
turban dan menangis,
padahal niatnya
bukanlah untuk ria, juga
bukan untuk pamer,
tetapi berusaha
mendekatkan diri
(taqarrub) kepada Allah
swt semata: apakah itu
dibolehkan atau tidak?
Beliau menjawab:
“Segala puji bagi Allah
swt, adalah baik dan
dianjurkan oleh syariah,
untuk berkumpul
bersama membaca
Alquran, membaca zikir,
dan berdoa.”28
Ibn Katsîr Memuji Malam
Maulid
Imam Ibn Hajar
al-‘Asqalânî
menyebutkan bahwa Ibn
Katsîr, seorang ahli hadis
pengikut Ibn Taymiyyah,
“pada hari–hari terakhir
hidupnya menulis sebuah
kitab berjudul Mawlid
Rasûl Allâh yang tersebar
luas.29 Kitab tersebut
menyebutkan kebolehan
dan anjuran
memperingati maulid
Nabi saw.”30
Dalam kitab Ibn Katsîr
tersebut, ia mengatakan,
“Malam kelahiran Nabi
saw. adalah malam yang
agung, mulia, diberkati,
dan suci, suatu malam
yang membahagiakan
bagi orang-orang
beriman, bersih, bersinar
cemerlang, dan tak
ternilai harganya.”31
Fatwa al-‘Asqalânî dan
al-Suyûthî tentang
Kebolehan Memperingati
Maulid Nabi Muhammad
sallallahu alayhi
wasalam.
Jalâl al-Dîn al-Suyûthî
berkata:
Syekh-Islam, seorang
tokoh hadis pada
masanya, Ahmad ibn
Hajar (al-‘Asqalânî)
pernah ditanya mengenai
kebiasaan memperingati
kelahiran Nabi saw.
Beliau memberikan
jawaban sebagai berikut:
Sehubungan dengan asal
muasal dari kebiasaan
memperingati kelahiran
Nabi saw, itu merupakan
suatu bidah yang kita
tidak menerimanya dari
para saleh di antara
kaum muslim terdahulu
pada masa tiga abad
pertama Hijriah.
Meskipun demikian,
praktik tersebut
melibatkan bentuk-
bentuk yang terpuji dan
bentuk-bentuk yang tak
terpuji. Apabila dalam
praktik peringatan
tersebut, orang-orang
hanya melakukan hal-hal
terpuji saja, dan tidak
melakukan yang
sebaliknya, maka itu
bidah yang baik, tetapi
bila tidak demikian,
maka tidak.
Dalil dasar dari nas yang
bisa dipercaya untuk
merujuk keabsahannya
telah saya temukan,
yaitu suatu hadis sahih
yang dimuat dalam
kumpulan Shahîh al-
Bukhârî dan Shahîh
Muslim, bahwa Nabi saw.
datang ke Madinah dan
menemukan orang-orang
Yahudi berpuasa pada
tanggal sepuluh
Muharam (Asyura), maka
beliau bertanya kepada
mereka tentang hari itu
dan mereka menjawab:
“Hari ini adalah hari
Allah swt
menenggelamkan Firaun
dan menyelamatkan
Musa a.s., maka kami
pun berpuasa untuk
menyatakan syukur
kepada Allah Taala.”
Dalil ini menunjukkan
keabsahan berterima
kasih kepada Allah swt
atas karunia-Nya yang
diberikan pada suatu
hari tertentu, baik dalam
bentuk pemberian
nikmat dan
penghindaran dari
bencana. Kita mengulang
rasa syukur kita dalam
peringatan hari tersebut
setiap tahun, dengan
menyatakan syukur
kepada Allah swt dalam
berbagai bentuk
peribadatan seperti
sujud syukur, puasa,
memberi sedekah atau
membaca Alquran …
Lantas, karunia apa lagi
yang lebih besar
daripada kelahiran Nabi
saw., Nabi pembawa
rahmat, pada hari ini?
Melihat kenyataan
demikian, kita
seharusnya memastikan
untuk memperingatinya
pada hari yang sama,
sehingga sesuai dengan
cerita tentang Musa a.s.
dan tanggal sepuluh
Muharam di atas. Akan
tetapi, orang yang tidak
melihat persoalan ini
penting, merayakannya
pada hari apa saja dalam
bulan itu, bahkan
sebagian meluaskannya
lagi pada hari apa saja
sepanjang tahun,
pengecualian apa pun
dapat diambil dalam
pandangan semacam
ini.”32
Pandangan Ulama
Terdahulu tentang
Maulid
Dalam pandangan mufti
Mekah, Ahmad ibn Zaynî
Dahlân, “Memperingati
hari kelahiran Nabi saw.
dan mengingat Nabi saw.
itu dibolehkan oleh
ulama muslim.”33
Imam al-Subkî
mengatakan, “Pada saat
kita merayakan hari
kelahiran Nabi saw, rasa
persaudaraan yang kuat
merasuk ke hati kita,
dan kita merasakan
sesuatu yang khas.”
Imam al-Syawkânî
mengatakan,
“Dibolehkan merayakan
hari kelahiran Nabi
saw.”34 Beliau pun
mengatakan bahwa
Mulah ‘Alî al-Qârî
memiliki pandangan yang
sama dalam kitabnya, al-
Mawrid al-Râwî fî al-
Mawlid al-Nabawî, yang
ditulis secara khusus
untuk mendukung
perayaan hari kelahiran
Nabi saw.
Imam Abû Syamah, guru
Imam al-Nawawî,
berkata:
Bidah yang paling baik
pada masa kita sekarang
ini adalah peringatan
hari kelahiran Nabi saw.
Pada hari tersebut
orang-orang memberikan
banyak sumbangan,
melakukan banyak
ibadah, menunjukkan
rasa cinta yang besar
kepada Nabi saw., dan
menyatakan banyak
syukur kepada Allah Swt.
karena telah mengutus
Rasul-Nya kepada
mereka, untuk menjaga
mereka agar mengikuti
sunah dan syariah
Islam.35
Imam al-Syakhawî
mengatakan,
“Peringatan hari
kelahiran Nabi saw.
dimulai pada tiga abad
setelah Nabi saw. wafat.
Seluruh muslimin
merayakannya dan
seluruh ulama
membolehkannya,
dengan cara beribadah
kepada Allah swt,
bersedekah, dan
membaca riwayat hidup
Nabi saw.”
Hafiz Ibn Hajar al-
Haytsamî mengatakan,
“Sebagaimana orang-
orang Yahudi merayakan
Hari Asyura dengan
berpuasa untuk
bersyukur kepada Allah
swt, kita pun mesti
merayakan maulid.”
Beliau pun mengutip
hadis yang telah
disebutkan di depan,
“Tatkala Nabi saw. tiba
di Madinah …” Ibn Hajar
kemudian melanjutkan:
(Selayaknya) orang
bersyukur kepada Allah
swt atas rahmat yang
telah Dia berikan pada
suatu hari tertentu, baik
berupa kebaikan yang
besar ataupun
keterhindaran dari
bencana. Hari tersebut
dirayakan setiap tahun
setelah peristiwa itu.
Ungkapan syukur terlahir
dalam berbagai bentuk
peribadatan seperti
sujud syukur, puasa,
sedekah, dan membaca
Alquran. Lantas,
kebaikan apa lagi yang
lebih besar dari
kedatangan Nabi saw.,
seorang Nabi penebar
rahmat, pada hari
maulid?
Ibn al-Jawzî (w. 579)
menulis sebuah buku
kecil yang berisi syair
dan riwayat hidup Nabi
saw untuk dibacakan
dalam perayaan maulid.
Buku itu berjudul Mawlid
al-‘Arûs,36 dan beliau
membuka dengan kata-
kata, “Al-hamd li Allâh
al-ladzî abraza min
ghurrat ‘arûs al-hadhrah
shubhan mustanîrah
(Segala puji bagi Allah
swt yang telah
mengeluarkan dari
pancaran cahaya
hadirat-Nya pagi hari
yang semburat dengan
sinar cemerlang).”
Dianjurkan untuk
Memperingati Maulid
Imam al-Suyûthî
mengatakan:
Alasan berkumpul untuk
salat tarawih adalah
sunah dan merupakan
suatu cara mendekatkan
diri kepada Allah …
demikian juga kami
katakan bahwa alasan
berkumpul untuk
memperingati maulid
adalah dianjurkan
(mandûb) … dan
merupakan tindakan
medekatkan diri kepada
Allah … dan niat
merayakan kelahiran
Nabi saw adalah baik
(mustahsanah) tanpa
keraguan lagi.37
Imam al-Suyûthî
melanjutkan:
Tentang kebolehan
maulid, saya ambil dasar
hukumnya dari sumber
sunah yang lain (di
samping hadis tentang
Asyura yang dijadikan
dasar oleh Ibn Hajar),
yaitu hadis yang
ditemukan dalam karya
al-Bayhaqî, yang
diriwayatkan oleh Anas,
“Nabi saw. menyembelih
aqiqah untuk dirinya
sendiri setelah beliau
menerima kenabian,”
meskipun telah
disebutkan bahwa
kakeknya, yaitu ‘Abd al-
Muthâlib telah
melakukannya pada hari
ketujuh setelah
kelahirannya, padahal
aqiqah tidak dapat
diulangi.38 Oleh karena
itu, alasan bagi tindakan
Nabi saw tersebut adalah
untuk menyatakan
syukur kepada Allah
karena telah
mengutusnya sebagai
rahmat seluruh alam,
dan menyatakan
penghargaannya kepada
umatnya, sebagaimana
halnya beliau suka
melakukan salat untuk
dirinya sendiri. Oleh
karena itu, juga
dianjurkan kepada kita
untuk menyatakan rasa
syukur kita atas
kelahirannya dengan
berkumpul bersama
saudara-saudara kita,
memberi makan orang-
orang, dan perbuatan
baik lain, serta
bergembira.39
Hadis ini menguatkan
hadis di muka tentang
bagaimana Nabi saw.
menaruh perhatian
khusus terhadap hari
Senin sebagai hari
kelahiran dan
kenabiannya.
Penegasan Para Penulis
“Salafi” Kontemporer
perihal Larangan Maulid
Klaim bahwa
memperingati maulid itu
suatu bidah bukan saja
langkah mengada-ada
yang menyimpang dari
apa yang telah dikatakan
mayoritas ulama tempo
dulu mengenai hal
tersebut. Pertama-tama,
dan terutama, klaim
tersebut mengandung
cacat, baik dari sisi
logika maupun
penalarannya, karena
ulama telah menetapkan
bahwa bidah ada yang
baik, ada yang buruk,
dan ada yang biasa saja.
Karena itu, tidaklah
boleh melarang sesuatu
semata atas dasar
anggapan bahwa itu
suatu bidah (kreasi baru)
sebelum terlebih dulu
menentukan termasuk
bidah apakah hal itu.
Ada bid‘ah hasanah
(bidah yang baik),
menurut mayoritas
ulama yang telah menulis
tentang bidah, meskipun
beberapa ulama, seperti
Ibn al-Jawzî dan Ibn
Taymiyyah, beranggapan
bahwa semua bidah
pastilah bidah sesat
(bid‘ah dhalâlah).
Kedudukan mereka
dalam masalah ini adalah
suatu kelainan (syâdzdz)
dan menyimpang dari
norma, sebagaimana
bukti-bukti berikut
menunjukkan:
1. Harmalah ibn Yahyâ
berkata: “Saya
mendengar al-Syâfi‘î
berkata: ‘Al-bid‘ah
bid‘atâni bid‘ah
mahmûdah wa bid‘ah
madzmûmah, fa mâ
wâfaqa al-sunnah fa
huwa mahmûd, wa mâ
khâlaf al-sunnah fa huwa
madzmûm (Bidah itu dua
jenis: bidah terpuji dan
bidah tercela. Apa yang
sesuai dengan sunah
adalah terpuji, dan yang
bertentangan dengan
sunah adalah tercela.’”40
2. Hafiz al-‘Izz ibn ‘Abd al-
Salâm berkata: Ada lima
tipe bidah: yang dilarang
(haram), yang tak disukai
(makruh), yang
dibolehkan (mubah),
yang terpuji (mandûb),
dan yang harus (wajib).41
3. Ulama lain yang
mengakui kemungkinan
adanya yang disebut
bidah yang baik (bid‘ah
hasanah) adalah:
Abû Syamah, yang
membagi bidah ke dalam
bid‘ah mustahsanah/
hasanah (bidah yang
dianggap baik) dan
bid‘ah mustaqbahah
(bidah yang dianggap
buruk), yang terbagi ke
dalam muharram
(dilarang) dan makruh
(tak disukai), pada sisi
lainnya.42
Al-Turkumanî al-Hanafî,
yang membagi bidah
menjadi bid‘ah
mustahsanah (dianggap
baik), yaitu bidah yang
mubâhah yutsâbu ‘alayhâ
(bidah yang dibolehkan
dan mendapatkan
pahala), dan bid‘ah
mustaqbahah (dianggap
buruk), seperti yang
makruh dan yang
haram.43
Ibn al-Hajj al-Abdarî al-
Mâlikî, yang mengikuti
pembagian menurut Ibn
‘Abd al-Salâm.44
Al-Tahanawî al-Hanafî,
yang juga mengikuti
pembagian menurut Ibn
‘Abd al-Salâm.45
Hafiz Ibn Hajar
al-‘Asqalânî, dalam
mengomentari
perkataan ‘Umar r.a.
tentang salat tarawih,
“Ni‘mati al-bid‘ah hâdzihi
(Sebagus-bagusnya bidah
yakni),” mengatakan:46
Akar makna bidah adalah
apa yang dihasilkan
tanpa contoh lebih
dahulu. Kata tersebut
diterapkan dalam hukum
sebagai lawan dari kata
sunah, dan karena itu
patut dicela. Secara
tegas, bila bidah itu
merupakan bagian dari
apa yang dapat
dikelompokkan sebagai
yang dapat diterima oleh
syariat, maka ini
termasuk ke dalam bidah
yang baik (hasanah),
sedangkan bila bidah itu
merupakan bagian dari
apa yang dapat
dikelompokkan sebagai
yang dicela oleh syarak,
maka ini termasuk ke
dalam bidah yang patut
dicela (mustaqbahah),
bila tidak demikian,
maka termasuk kategori
yang diperbolehkan
(mubah). Bidah tersebut
dapat dibagi ke dalam
lima kategori yang sudah
dikenal.47

Jumat, 05 Februari 2010

BAHTSUL MASAILSadap Telepon Bolehuntuk KeperluanPenegakan HukumKamis, 4 Februari 201019:03Jakarta, NU Online

Mengintip pembicaraan
orang lain atau
melakukan penyadapan
telepon dihalalkan
kukumnya demi
penegakan hukum dan
dengan catatan pihak
yang disadap diduga kuat
melakukan pelanggaran
hukum.
Menurut syariat Islam,
hasil penyadapan
dinyatakan ’sah’ sebagai
alat bukti dalam
persidangan perkara.
Demikian diputuskan
dalam bahtsul masail Pra
Muktamar NU di
Cirebon, 29-31 Januari
lalu.
Dalam alur masalah
disorot salah satu upaya
penyadapan yang telah
dilakukan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi
(KPK) demi penegakan
hukum.
Ditanyakan, bagaimana
hukum mengintip dan
mengintai pembicaraan
orang lain melalui sadap
telepon seperti itu, dan
sahkah saksi atas
perbuatan dengan cara
memutar rekaman
telepon yang disadap?
Mubahitsin atau para
pembahas dari
perwakilan pengurus NU
se-Indonesia menyatakan
bahwa ’hukum asal’ dari
mengintai pembicaraan
orang lain melalui sadap
telepon sebenarnya tidak
boleh atau haram.
Upaya mengetahui isi
pembicaraan orang lain
yang dimaksud ini
hukumnya haram baik
untuk tujuan baik
maupun untuk tujuan
jahat. Namun
penyadapan dibolehkan
demi penegakan hukum.
“Sadap telepon
dibolehkan untuk
keperluan penegakan
hukum dan ada
gholabatuzh zhan
(dugaan kuat)
melakukan maksiat,”
demikian hasil bahtsul
masail yang diterima NU
Online.
Hasil pembahasan ini
akan dimatangkan
kembali dalam bahtsul
masail Muktamar ke-32
di Makassar, maret
mendatang. Menurut
Wakil Ketua PP Lembaga
Bahtsul Masail HM Cholil
Nafis, hasil ini sudah
'semi final' untuk
Muktamar. (nam)
« Kembali

Jumat, 07 Agustus 2009

Islam Liberal "Plus"= Post-Tradisionalisme Islam
Oleh Rumadi

KETIKA wacana post tradisionalisme Islam (selanjutnya disebut postra) dimunculkan dalam belantika pemikiran Islam di Indonesia, dapat diduga akan memunculkan berbagai tanggapan, mulai dari yang apresiatif, biasa-biasa saja, sampai yang sinis. Apresiatif karena wacana itu dianggap dapat menggairahkan kembali dinamika pemikiran Islam di Indonesia yang diakui atau tidak, seolah “berjalan di tempat”, tanpa perkembangan berarti. Biasa-biasa saja karena postra dianggap belum mapan basis epistimologisnya, bahkan tidak ada bedanya dengan arus pemikiran yang lain; dan sinis karena wacana ini dianggap sebagai kelatahan anak-anak muda NU untuk mempertegas identitasnya, bahkan dilihat sebagai “primordialisme baru” yang dibungkus dengan teori-teori yang canggih.

Munculnya berbagai reaksi itu merupakan hal wajar dan tidak perlu diperdebatkan. Meski demikian-ini yang agak memprihatinkan-bila wacana postra semata-mata dianggap untuk mempertegas identitas kelompok, apalagi sebagai kelatahan, hal ini sebenarnya agak keterlaluan, meski anggapan demikian juga tidak dapat dianggap salah sama sekali.

Ada beberapa alasan yang mungkin dapat dijadikan argumen untuk membenarkan hal ini. Pertama, wacana postra lebih banyak disuarakan oleh komunitas yang sebagian besar afiliasi kulturalnya adalah Nahdlatul Ulama (NU). lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mempunyai perhatian terhadap perkembangan pemikiran dan menyuarakan tema postra, sebagian besar juga LSM yang afiliasi kulturalnya ke NU, meski juga harus diakui, banyak aktivis Islam liberal yang afiliasi kulturalnya juga NU.

Kedua, kata “tradisionalisme” telah menjadi cap yang menghunjam kuat sebagai identitas “orang NU”. Karena itu, ketika muncul kata “postra” maka orang akan dengan mudah mengatakan bahwa “itu milik NU”. Ketiga, munculnya wacana postra beriringan dengan semangat “Islam liberal” yang sedang menjadi gairah intelektualisme Islam belakangan ini dengan berbagai aktivitas pendukungnya. Dalam suasana demikian, postra mengesankan seolah ingin membedakan dengan Islam liberal, baik pada tingkat epistemologis maupun basis gerakannya.

Meski prihatin, tetapi itulah realitas kita. Kata “tradisional-modern” dan segala turunannya bukan saja telah menjadi kategori akademik, tetapi lebih dari itu, telah menjadi identitas kelompok yang di dalamnya diberi muatan “ideologi” tertentu. Arus demikian juga begitu kuat terasa ketika muncul arus neomodernisme dan Islam liberal di satu pihak dan postra di pihak lain. Jika yang pertama dianggap sebagai milik kalangan “modernis”, yang kedua dianggap milik kalangan “tradisionalis” NU. Harus diakui, ini sebenarnya hal yang tidak sehat dalam konteks perkembangan pemikiran, karena pemikiran akan menjadi identitas kelompok.

Terlepas dari kenyataan itu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah ada perbedaan mendasar, terutama pada tingkat epistimologis antara neomodernisme dan Islam liberal di satu pihak dan post tradisionalisme Islam di pihak yang lain?

Problem epistimologis

Harus diakui, sejauh ini belum ada penjelasan memadai mengenai basis epistimologis apa yang disebut Islam liberal. Paling tidak, ada dua buku yang secara agak panjang lebar menjelaskan hal ini, yaitu apa yang ditulis Leonard Binder, Islamic Liberalisme: A Critique of Development Ideologies, (Chicago: The University of Chicago Press, 1988); dan tulisan Charles Kurzman dalam pengantar buku, Liberal Islam, A Sourcebook, (Oxford: Oxford University Press, 1998).

Pengertian Islamic Liberalism-nya Leonard Binder dan Liberal Islam-nya Charles Kurzman sebenarnya mempunyai pengertian dan sudut pandang berbeda. Sebagaimana diakui sendiri oleh Kurzman, Binder menggunakan sudut pandang “Islam bagian dari liberalisme” (a subset of liberalism), sedangkan Kurzman menggunakan pendekatan bahwa “liberalisme sebagai bagian dari Islam” (a subset of Islam). Konsekuensi lebih jauh dari perbedaan cara pandang ini, jika Binder berupaya melihat secara terbuka dialog Islam dengan Barat dan membiarkannya berdialektika dalam serangkaian proses take and give, termasuk dengan tradisi lokal (dalam konteks ini tradisi Arab).

Sedangkan Kurzman mengambil posisi sebaliknya dengan lebih menekankan pada konteks Islaminya, dengan menguji pemikiran kaum muslim liberal di pandang dari sudut tradisi Islam. Karena itu, jika Binder melihat seberapa liberalkah kaum liberal Islam? Apakah varian-varian liberal sesuai standar Barat? Maka, Kurzman mempertanyakan, apakah pikiran-pikiran liberal itu masih berada dalam konteks Islami atau tidak?

Akibat dari paradigma yang demikian, maka Islam liberal menjadi kurang bisa menghargai tradisi lokal, kepercayaan lokal, adat istiadat dan seterusnya, karena dianggap bid’ah, inkretik, “tidak asli”, kurang “Islami”, bahkan penyimpangan dari Islam itu sendiri. Konsep ini jelas sekali tergambar dalam pikiran liberalis Islam (via Kurzman) ketika menguraikan rentetan kelahiran Islam liberal. Menurut pandangan Kurzman, sejarah panjang dalam Islam diwarnai tiga tradisi.

Tradisi pertama disebut “Islam adat” (customary Islam) yang ditandai pencampuradukan antara “tradisi lokal” (little tradition) dengan tradisi besar (great tradition) yang diandaikan sebagai “Islam yang asli” dan “Islam yang murni”. Islam yang sudah bercampur dengan berbagai tradisi lokal dianggap sebagai Islam yang penuh bid’ah dan khurafat.

Atas dasar itu muncul arus tradisi kedua yang disebut “Islam revivalis” (revivalist Islam) yang bisa mengambil bentuk pada fundamentalisme dan wahabisme. Tradisi ini berupaya melakukan purifikasi (pemurnian) terhadap Islam yang bercampur tradisi lokal yang dianggap tidak Islami dan sebagai penyimpangan terhadap doktrin Islam “yang murni” dengan jargon “kembali kepada Al Quran dan hadis”.

Arus tradisi ketiga disebut sebagai “Islam liberal”. Dalam pandangan Kurzman, sebagaimana pendukung revivalis, Islam liberal mendefinisikan dirinya berbeda secara kontras dengan Islam adat dan berseru keutamaan Islam pada periode awal untuk menegaskan ketidakabsahan praktik-praktik keagamaan masa kini. Islam liberal menghadirkan kembali masa lalu untuk kepentingan modernitas, sedangkan Islam revivalis menegaskan modernitas atas nama masa lalu. Meski diakui ada banyak versi tentang liberalisme Islam, namun, menurut Kurzman, ada benang merah yang dapat mempertemukan semuanya, yaitu kritiknya terhadap tradisi “Islam adat” maupun “Islam revivalis”. Dengan demikian, Islam liberal dibayangkan sebagai counter atas dua arus sekaligus, Islam adat dan Islam revivalis sekaligus.

Paradigma Islam liberal yang tidak ramah terhadap tradisi lokal inilah yang kemudian mendapat reaksi dari “post tradisionalisme Islam”. Pada tingkat ini ada titik temu sekaligus perbedaan antara “Islam liberal” dan “postra”. Titik temuannya terletak pada semangat untuk mengusung pemikiran-pemikiran liberal, tidak terjebak pada ortodoksi, membebaskan diri dari keterkungkungan teks keagamaan, sekularisasi, dan seterusnya, meski di dalamnya ada pernik-pernik pemikiran berbeda. Sedangkan yang membedakan adalah cara pandang masing-masing terhadap lokalitas, kepercayaan pinggiran, pengetahuan pinggiran, dan seterusnya.

Perbedaan cara pandang terhadap “lokalitas” itu sebenarnya berawal dari perbedaan dalam memandang modernitas. Jika “Islam liberal” melihat modernitas sebagai rahmat yang harus disyukuri karena dengannya manusia dapat hidup lebih mudah dan efisien; sedangkan postra melihat modernitas lebih sebagai “laknat” meski aspek positifnya tidak dapat diingkari. Modernitas yang pada awalnya merupakan gagasan emansipatoris, namun di Indonesia ia justru mengambil bentuk sebaliknya seperti kolonialisme, imperialisme, dan juga otoritarianisme. Karena itu, di satu pihak kalangan postra lebih kritis terhadap modernitas, terutama pandangannya terhadap tradisionalitas yang dipandang sebagai penghambat kemajuan sehingga perlu disingkirkan. Namun, di pihak lain aspek-aspek emansipatorisnya harus tetap diapresiasi.

Atas dasar itu, jika dalam paradigma Islam liberal masih menekankan “otentisitas”, “orisinalitas”, dan “keaslian” Islam, maka postra sudah melampaui itu semua. Dari sinilah postra bertemu dengan pemikiran Arab modern seperti Nasr Hamid, Abu Zayd, Shahrur, al-Jabiri dan seterusnya, yang pemikirannya sering dijadikan sebagai rujukan epistimologis. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan, post tradisionalisme Islam adalah “Islam liberal plus”, yaitu plus penghargaan atas hal-hal yang lokal dan pinggiran. Saya pribadi berharap agar Islam liberal menjadikan “lokalitas” dan hal-hal yang bersifat pinggiran menjadi agenda liberalismenya, sehingga agenda Islam liberal dan postra bisa bertemu.

Lantas bagaimana prospek kedua arus pemikiran yang sama-sama menjunjung tinggi liberalisme itu? Terlepas dari aspek-aspek yang membedakannya, saya berkeyakinan, paham keagamaan yang dapat membedakan manusia dari segala bentuk keterkungkungan sambil menghargai aspek-aspek yang berbau lokal dan pinggiran akan lebih dekat dengan perasaan kemanusiaan. Dengan demikian, tidak ada lagi hegemoni dan dominasi satu kelompok atas kelompok lain atas nama otentisitas. Islam yang turun di Arab adalah agama yang tidak terlepas dari problem lokal. Karena itu, tidak perlu ada hegemoni lokalitas atas lokalitas lain atas nama “Islam murni”, karena kemurnian Islam tidak dapat diukur dengan lokalitas tertentu.

Dalam kaitan ini kita bisa berkaca pada sejarah panjang Islam di Indonesia, yaitu pertemuan antara “teologi Islam Arab” dengan “teologi lokal nusantara” yang memungkinkan terjadi dialektika secara terbuka, sehingga Islam benar-benar menjadi agama sejarah yang dihayati, dipikirkan, dan dipraktikkan masyarakat. Atas dasar itu, klaim bahwa Islam di Jawa misalnya, kurang asli dan kurang otentik dibanding Islam di Timur Tengah, menjadi tidak relevan. Jika tauhid diyakini sebagai esensi ajaran Islam, maka hal itu tidak menutup kemungkinan untuk dipahami dalam berbagai perspektif sesuai kesadaran lokal tradisional masyarakat setempat. Munculnya berbagai aliran teologi seperti jabariyah, Qodariyah dan Mu’tazilah merupakan bukti, tauhid Islam begitu terbuka untuk ditafsirkan. Bila demikian, tidak ada alasan untuk menolak tradisi dan budaya lokal.

Atas dasar itu, kemajuan luar biasa kalau Muhammadiyah yang selama ini memusuhi tradisi dan budaya lokal karena dianggap sebagai bid’ah dan khurafat, mampu merumuskan cara pandang baru yang lebih apresiatif terhadap lokalitas seperti dikemukakan Mutohhirun Jinan dalam tulisannya di harian ini. (Kompas,16/11)

Rumadi,

Redaktur Jurnal Taswirul Afkar Lakpesdam NU, Mahasiswa S3 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Kompas, 23/11/ 2001)

Minggu, 12 Juli 2009

KONSISTEN

Namanya Assari Assaqti, guru dari imam junaid. Selain sebagai ulama tasawuf, dia juga seorang pedagang. Suatu kali ia membeli barang dagang seharga 60 dinar. Ia akan menjualnya lagi dengan mengambil untung 3 dinar. Tiba-tiba barang dagangnya itu menjadi langka sementara peminatnya kian banyak. Harga pun melonjak menjadi 90 dinar. Seseorang datang kepadanya berniat membeli barangnya itu.
"Saya beli barang tuan dengan harga 90 dinar", kata sang pembeli. Ditawar seperti itu Assari malah menolak dan mematok harga semula. "Saya menjualnya 63 dinar", katanya. Tetapi barang itu di pasaran sudah di hargai 90 dinar", kata sang pembeli ini menjelaskan. "Ya, tapi saya sudah berketetapan hati tidak menjualnya kecuali 63 dinar", jawab Assari lagi. Keuntungan materi memang bukan satu-satunya motivasi dalam berdagang. Kalau saja Assari hanya mempertimbangkan keuntungan materi, apa yang dilakukannya hanya berjangka pendek, tak akan ada buahnya.
Dikutip dari Buletin AL-MIZAN edisi 26 Ramadhan-Syawal 1429 H, h.3